STUDI KEBIASAAN MINUM DAN HIDRASI PADA REMAJA DAN DEWASA DI DUA WILAYAH EKOLOGI YANG BERBEDA

Hardinsyah, Endang S. Soenaryo, Dodik Briawan, Evy Damayanthi, Cesilia M. Dwiriani,

Yekti H. Effendi, Mira Dewi dan Muhammad Aries

Kerjasama PERGIZI PANGAN Indonesia, Departemen Gizi Masyarakat (Fakultas Ekologi Manusia, IPB) dan Danone Aqua Indonesia. 2008.

Air merupakan salah satu zat gizi yang kadangkala pemenuhannya terabaikan. Sekitar dua-pertiga berat badan manusia adalah air. Air mempunyai berbagai peranan yang penting dalam tubuh, diantaranya adalah sebagai pelarut, katalisator, pelumas, pengatur suhu tubuh serta sebagai penyedia mineral dan elektrolit bagi tubuh. Semuanya sangat berguna untuk menjaga fungsi fisiologis tubuh,  kesehatan dan stamina tubuh. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan cairan dalam tubuh akan dapat mencegah timbulnya berbagai penyakit dan lebih jauh akan membuat hidup jadi lebih nyaman dan lebih baik. Rasa haus merupakan indikasi awal bahwa tubuh mengalami kekurangan air (predehidrasi). Meskipun begitu, air tidak hanya dibutuhkan pada saat tubuh merasa haus, tapi juga dibutuhkan setiap saat karena air merupakan salah satu zat gizi yang penting.

Penelitian di Singapura menunjukkan bahwa para remaja dan orang dewasa muda lebih berisiko mengalami dehidrasi dibanding kelompok lainnya. Di Indonesia masih belum ada bukti ilmiah mengenai hal tersebut. Oleh karena itu PERGIZI PANGAN Indonesia, Departemen Gizi Masyarakat FEMA IPB dan Aqua Danone  mengadakan penelitian yang berjudul “Kebiasaan Minum dan Status Hidrasi pada Remaja dan Dewasa di Dua Wilayah Ekologi yang Berbeda di Indonesia.

Tujuan utama penelitian ini adalah untuk memperoleh bukti-bukti ilmiah mengenai jenis, jumlah, sumber dan kebiasaan konsumsi air di antara para remaja dan orang dewasa di dua wilayah ekologi yang berbeda di Indonesia. Tujuan khususnya adalah untuk: 1) mempelajari jenis, jumlah dan sumber air minum dan minuman yang biasa dikonsumsi oleh remaja dan orang dewasa; 2) mempelajari kebiasaan minum air dan minuman (frekuensi, waktu, tempat dan kondisi) pada remaja dan orang dewasa; 3)  mempelajari berbagai alasan pemilihan beberapa jenis air minum dan minuman (air dalam kemasan, air kran, air yang dimasak, minuman ringan, sport drink, minuman berenergi, susu, jus dan lainnya) pada remaja dan orang dewasa; 4) mempelajari persepsi dan pengetahuan para remaja dan orang dewasa mengenai kebutuhan air, air minum yang aman serta berbagai manfaatnya; dan 5) mempelajari besarnya status hidrasi pada remaja dan orang dewasa.

Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Mempertimbangkan bahwa perbedaan suhu atau iklim (wilayah ekologi) akan berpengaruh terhadap asupan air, maka untuk penelitian ini dipilih dua lokasi, yaitu: Lembang (suatu wilayah pegunungan dengan ketinggian 700 – 1050 m di atas permukaan laut), yang mencerminkan wilayah dengan suhu rendah (suhu hariannya sekitar 22oC); dan 2) Jakarta Utara (wilayah dataran rendah dengan ketinggian 5-50 m di atas permukaan laut), yang mencerminkan wilayah bersuhu tinggi (suhu hariannya sekitar 28oC). Pengambilan data di lapang dilakukan pada tanggal 13 – 31 Oktober 2008. Sampel atau subjek adalah remaja (15-18 tahun) dan orang dewasa (25 – 50 tahun) laki dan perempuan dengan kriteria inklusi: 1) remaja usia 15 – 18 tahun dan dewasa usia 25-50 tahun, 2) mengalokasikan sebagian besar waktu di dua lokasi penelitian, 3) berbadan sehat.  Kriteria eksklusi contoh adalah tidak menderita: 1) kaki bengkak (kelainan ginjal), 2) kencing manis, 3) kelainan hati.  Kriteria eksklusi ditentukan berdasarkan pemeriksaan dokter dan analisis urine.

Jumlah contoh minimum di setiap lokasi penelitian dihitung berdasarkan rumus perhitungan jumlah contoh minimal yaitu  50 subjek pada tiap kelompok umur dan jenis kelamin  dan lokasi penelitian, sehingga total subjek adalah 400 orang. Data dikumpulkan meliputi Sosial-ekonomi-demografi, Konsumsi air dan minuman, Kebiasaan minum air dan minuman, Persepsi dan pengetahuan, tentang minum air yang sehat serta manfaatnya, Asupan air minum, Status gizi, Aktivitas fisik, Status hidrasi, Pemeriksaan fisik dan riwayat penyakit, urin pagi hari. Untuk memperoleh data yang sesuai dan valid dilakukan control terhadap kualitas data. Kontrol tersebut terdiri atas empat tahap yaitu: 1) Pertemuan atau rapat tim yang membahas desain dan metode; 2) Uji coba lapang kuesioner atau berbagai instrument lainnya yang digunakan; 3) Kontrol berbagai perbedaan data diantara peneliti; dan 4) Supervisi selama pengambilan data di lapang.  Penentuan dehidrasi didasarkan pada kriteria: 1) berat jenis urine >0,0120, 2) warna urine kuning pekat, 3) eritrosit 1-5/lpb, leukosit 1-5/lpb dan silinder hialin positif, dan 4) proteinuria ringan. Sampel dinyatakan mengalami dehidrasi jika memenuhi kriteria diatas ditambah dua gejala dehidrasi, yaitu haus/kerongkongan kering, sakit kepala/pusing, kulit kering/kemerahan, bibir dan mulut kering, berdebar-debar, tubuh terasa panas , jumlah urine sedikit, jarang buang air kecil.

IMT (Indeks Massa Tubuh) berkaitan dengan lemak tubuh orang dengan kategori  IMT yang normal berkisar antara 18.5 – 23, kurus jika IMT kurang dari 18.5 dan gemuk jika IMT lebih dari 23 (WHO, 2004).  Aktivitas fisik dikategorikan berdasarkan krtiteria US-DHHS (2008) yaitu tingkat rendah (low) jika alokasi untuk kegiatan intensitas sedang (kurang 150 menit/minggu), menengah (medium) aktifitas antara 150-300 menit/minggu, dan tinggi (high) jika lebih dari 300 menit/minggu. Yang termasuk dengan kegiatan fisik tingkat sedang diantaranya adalah jalan cepat, naik sepeda, atau berkebun. WHO (2003) menyatakan tingkat kesehatan seseorang diperoleh jika akumulasi aktivitas fisik tingkat sedang dilakukan minimal 30 menit dalam sehari. Data diolah secara statistik dengan mempertimbangkan data ekstrim untuk memvalidasi hasil entri data. Data yang sudah divalidasi akan dianalisis menggunakan statistik. Hasil analisis data akan disajikan dalam bentuk tabel, diagram dan kurva/gambar untuk menjawab tujuan penelitian.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa di daerah dataran tinggi, sebagian besar remaja menyatakan bahwa sumber air minum untuk keluarga berasal dari air galon (38.1 %), mata air (27.8%), air ledeng (26.8%) dan air sumur (20.6%).  Demikian pula pada kelompok dewasa sumber air minum keluarga diperoleh dari air galon (34.8 %), mata air (30.4%), air sumur (21.7%) dan air ledeng (15.2%).  Kebutuhan air galon yang sangat besar ditemukan di wilayah dataran rendah, yaitu 74.3% remaja dan 72.5% dewasa, dan selebihnya berturut-turut berasal dari  ledeng 32.1% dan 33.3%.

Jumlah kebutuhan air galon untuk minum keluarga remaja baik di dataran tinggi maupun dataran rendah adalah berturut-turut 2.3 dan 7.8 galon per bulan. Sebanyak 65-70% remaja menyebutkan jenis air galon yang digunakan adalah bermerk, dan sebanyak 88.2% menggunakan merek Aqua. Pada kelompok dewasa jumlah air galon untuk sumber air minum keluarga adalah 1.6 galon per bulan di wilayah dataran tinggi dan 7.3 galon per bulan di dataran rendah.  Sebanyak 70-72% kelompok dewasa air galon bermerk, dan 45-50% diantaranya menggunakan merek Aqua.

Sebagian besar remaja (73.2%) di dataran tinggi lebih menyukai air minum tanpa kemasan dibandingkan kemasan. Namun di dataran rendah, remaja yang menyukai air minum tanpa kemasan sebanyak 52.3%, relatif sama dengan 47.4% remaja yang menyukai air minum kemasan. Frekuensi air minum kemasan di dataran rendah jauh lebih banyak dibandingkan di dataran tinggi, yaitu 3,9 kali/hari dibandingkan 1,8 kali/hari.  Kebiasaan minum pada kelompok dewasa di dataran tinggi sebanyak 70.7% dan di dataran rendah sebanyak 50.0% lebih menyukai air putih tanpa kemasan.

Keamanan minuman menjadi alasan utama remaja 80-85%  untuk menggunakan air minum kemasan maupun tanpa kemasan. Teh dan kopi merupakan jenis minuman yang disukai setelah air minum. Jumlah sampel yang mengkonsumsi teh/kopi berturut-turut 79% dan 84%. Frekuensi konsumsi teh/kopi di pantai rata-rata 1,5 kali/hari dan di pegunungan 1,6 kali/hari.  Rasa menjadi pertimbangan utama untuk konsumsi minuman selain air minum.  Hanya 25.0% sampel dewasa di dataran tinggi dan 18.6% di dataran rendah yang menyukai minuman selain air putih. Sampel dewasa memilih minuman dengan pertimbangan utama karena keamanannya, yaitu 63.1% di dataran tinggi dan 80.4% di dataran rendah.

Sebagian besar remaja di dataran tinggi (53.6%) mempunyai tingkat pengetahuan tentang air minum kategori sedang, dan di dataran rendah (57.8%) dengan kategori rendah. Sebagian besar kelompok dewasa yang tinggal di dataran tinggi (57.6%) maupun dataran rendah (59.8) termasuk mempunyai pengetahuan air minum kategori sedang. Pengetahuan tentang fungsi air, makanan sebagai sumber air, gejala dehidrasi merupakan aspek yang paling banyak tidak diketahui oleh remaja dan dewasa di kedua daerah.

Keadaan dehidrasi yang ditemukan pada contoh remaja dan dewasa termasuk dalam kategori ringan. Pada kelompok remaja proporsi dehidrasi ringan di dataran tinggi 24,75% dan di dataran rendah 41,70%.  Pada kelompok dewasa proporsi dehidrasi ringan di dataran tinggi 15,40% dan di dataran rendah 24,00%. Presentasi dehidrasi ringan pada  kedua kelompok lebih tinggi di dataran rendah dibandingkan dengan di dataran tinggi.

Penelitian ini merekomendasikan bahwa menginagt pengetahuan tentang air minum masih belum populer di masyarakat, maka pihak pemerintah, institusi pendidikan serta industri, khususnya industri air minum turut berupaya mempopulerkan berbagai informasi terkait air minum yang bersih, aman dan sehat. Langkah nyata yang dapat ditempuh oleh pihak pemerintah serta institusi pendidikan diantaranya adalah dengan meningkatkan muatan pengetahuan gizi atau khususnya pengetahuan tentang air minum dalam berbagai mata pelajaran yang relevan. Bagi pihak industri, langkah yang dapat ditempuh antara lain melalui penyebaran informasi dalam beragam iklan produk di berbagai media termasuk juga pencantuman informasi terkait pengetahuan air minum dalam kemasan produknya. Jumlah remaja dan dewasa di Indonesia sekitar 70 juta orang; secara teoritis, semakin dini upaya pencegahan terhadap dehidrasi, maka kondisi kesehatan usia produktif ini juga akan lebih baik, yang hasilnya adalah kemampuan fisik, mental, stamina dan kesehatan yang lebih baik.